ANDA TERHEBAT
Sejak melihat kulit anda yg lusuh dan berkerut,sejak melihat tatapan mata anda semakin sayu,sejak melihat tenaga anda semakin berkurang. Saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak aku melihat banyak bekas luka di hati anda. Karena setiap hari mengerahkan hati dan tenaga untuk keluarga. Saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak aku melihat seyuman di pipi yang dipaksa untuk tetap tersenyum setiap harinya. Sejak aku melihat seyuman itu kian dipaksa kian terlihat pahit. Sejak saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak aku melihat goresan-goresan luka di setiap bagian tubuh anda karena mengerahkan tenaga untuk berkebun. Untuk menambah kebutuhan-kebutuhan keluarga. Sejak saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak aku melihat banyaknya tuntutan-tuntutan yang harus di hadapi setiap harinya. Tanpa adanya yang memikirkan tuntutan anda. Sejak saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak aku melihat tetesan air mata di setiap doa anda, yang selalu bersembunyi memanjatkan doa kepada keluarga. Sejak saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak aku menyadari belaian halus dari tangan anda, yang tetap sama dari aku kecil sampai sekarang. Tetap sama, sama-sama nyaman dan menenangkan. Sejak saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak aku melihat nafas keluhan yang ditahan, menepis semua keluh kesah dan kegundahan di dada. Sejak saat itu juga aku semakin bersadar diri.
Sejak kapan anda pernah menuntut?
Sejak kapan anda pernah mengeluh?
Sejak kapan anda pernah mengutaran keluh kesah anda?
Tidak pernah.... ya! Tidak pernah....
Keluhan itu, luka itu, tuntutan itu, hati yang rapuh itu, tangisan itu. Anda tanggung sendiri, anda bawa di pundak anda sendiri. Tanpa mau membagi itu semua, tanpa mau membebani satu orang pun dengan keadaan anda Ibu.
PUTRI YULANTIKA
Komentar
Posting Komentar