SEINA
SEINA
Jam menunjukkkan pukul 12:00 (wib) siang hari. Ahhh... Aku merebahkan tubuhku di tempat tidurku dengan nyaman,untuk merilekskan tubuh yang sedikit lelah. Sudah setengah hari aku melewati hari ini, "tidak terasa" gumamku. Seperti itulah hari-hari yang dilewati detik, menit, jam, hari, minggu, bulan tidak terasa sudah sampai penghujung tahun juga. Aku tersenyum kecil, menarik seutas senyum dibibirku,mengingatkan untuk diri sendiri bahwa kamu salah satu mahkluk hidup yang kuat. Karna bisa sampai pada saat ini.
Sekitar jam 13:00 wib aku mengadakan les bimbingan untuk anak sd (sekolah dasar) dan anak asuh aku hanya 1 orang saja, dia kelas 2 sd. Waktu kami hanya 1 jam setengah jadi selesai jam 14:30 wib dan itu dilakukan 3 kali dalam satu minggu.
Seina,itulah nama dari anak bimbinganku. Aku akan menulis tentang Seina. Dia gadis periang,imut,cantik,cerewet,tapi sangat baik hati. Jika mengingat namanya aku akan selalu tersenyum,karena tingkah lucu yang dilakukan ,setiap pertemuan bimbingan kami.
Jujur sebenarnya aku pribadi tidak ada niatan untuk membimbing seorang anak,tapi mama menyarankan aku. Karna aku pengaguran cukup lama,mencari pekerjaan kesana kemari tapi belum ada. "cobalah anggap itu pelayanan kamu,kasian anak kecil itu hanya mau dengan kamu,dan mungkin itu bisa menambah pengalaman kamu" kata mama.
Jujur saja kami berdua tidak ada kedekatan sama sekali,kami hanya satu kampung. Kedua orang tuanya membuka rumah makan dekat simpang jalan kerumah kami.
Kami hanya tegur sapa jika berpapasan,tidak akrab juga.
Disaat kedua orang tua seina mencari pembimbing belajar untuknya, Seina tidak mau,tapi disaat nama ku di sebutkan dia mau. Mungkin ini rencana sang pencipta pikirku.
Seina,kali pertama pertemuan kami hanya bermain saja. Karena kedua orangtuanya telah menyampaikan keluh kesahnya terhadap aku. Dimana pandemi,sekolah tidak beraturan,membuat kedua orang tua Seina kelabakan. Sebelum sd Seina sebenarnya lulusan TK (taman kanak-kanak) juga,tapi sampai Sd kelas 2 belum pintar membaca. Kesulitan yang Seina alami adalah susah menggabungkan kata-kata. Sedangkan abjad sudah mampu di ingatnya. Misalnya jika aku menyuruhnya membacakan abjad dari a-z dengan semangat dan suara yang keras dia akan ucapkan. Tapi disaat aku menyuruhnya mulai membaca kata perkata maka dia akan banyak diam,kebingungan,mengingat-ngingat satu persatu abjad, Begitulah pertemuan kami untuk pertama kalinya.
Mungkin beberapa pembaca menganggap tulisanku tidak menarik,karna menceritakan anak kecil. Tapi ambil saja segi positifnya,karna aku pribadi sampai sekarang selalu tersenyum setiap mengingat kenanganku bersama gadis kecil ini.
Berulang kali Seina menarik nafasnya dalam-dalam. Kalau aku perhatikan mungkin dia ingin sekali membakar buku yang ada di depan dia atau memusnahkan buku-buku milik dia hahaha
Karna aku juga pernah mengalami hal yang sama betapa menjengkelkan yang namanya belajar. Kalau bisa kata "belajar" itu dihapus dari bumi ini. Lebih keren lagi kata "belajar" tidak ada dari awal pembentukan bumi. Sudah tepat sekali rasanya ya kan hehe
Sudah 1 menit berlalu,aku pegang kedua tangannya dengan lembut,melihat kedua bola matanya yang kelihatan lelah sekali dan aku tersenyum bak bidadari "capek?" "bosan?" tanya ku. Dan dia pun jawab dengan anggukan.
Oke kita keluar rumah (les bimbingan ini tempatnya dirumah orang tuaku) dan tanpa menunggu lama dan diperintah dia berlari keluar dengan tawa girang,aku mengikuti langkahnya dari belakang. Kami menuju taman di depan rumah. Aku langsung memberi aba-aba kepada Seina untuk mengambil ranting-ranting kayu yang ada di taman itu. Satu untuk aku dan satu untuk dia.
Kami membuat tulisan-tulisan di tanah. Kataku bermain sambil belajar,dan dia dengan semangat menyetujui perkataanku.
Dia lari kesana-kemari dengan ranting di tanganya,dan aku duduk manis di kursi taman kami,sambil memberi intruksi kepadanya.
"oke Seina! Sekarang tulis kata pergi perintah ku"
Dia langsung diam dan bingung,aku mengerti dan langsung memberi aba-aba.
"hurup pertama pohon"
Dan dia menulis "p"
"hurup kedua eeeeayam"
Dan dia menulis "e"
Mata kami saling beradu dan melemparkan seyum satu sama lain. "ayo! Lanjut perintah ku"
Selesai "p" sama e" apalagi? Tanyaku
Dan dia kembali meneliti apa yang dia tulis,dan katanya "r" ya kak?"
Ya jawabku dan aku mengulang kembali kata "pergi"
lanjutannya dia binggung lagi "oke selanjunya "gigi" kataku" dan dia menuliskan hurup "g"
Dan tanpa diperintah langsung disambung dengan abjad "i"
Dan aku mengajak bertepuk tangan untuk permulaan permainan kami untuk mengapresiasi salah satu kerja kerasnya. Dengan alat tulis ranting kayu dan tempat menulis di tanah.
Disaat aku bertanya abjad apa saja yang susah diingat,dia dengan semangat menunjuk abjad itu satu persatu. Kami membaca buku belajar membaca untuk anak pemula. Sebenarnya dari awal aku bingung bagaimana cara supaya dia mudah mengerti setiap pelajaran yang aku sampaikan. Butuh tenaga kesabaran karna gadis kecil ini mudah bosan dan mudah menyerah.
Setiap malam aku berkutat dengan membaca artikel bagaimana cara agar anak mudah mengerti dan paham. Tapi berbagai cara aku tidak menemukan titik terang terhadap Seina.
Pada suatu hari dimana kejelasan itu bener-benar jelas,dimana kebingungan aku mendidiknya ada petunjuk untuk kelanjutanya.
Saat itu ayam kami masuk ke rumah aku refleks berkata "eeeeayam" dan tanpa aku sadari dia langsung menunjuk abjab "e ini ya kak?" dan aku benar- benar merasa lega.Tipe anak ini harus di bantu kata pembantu setiap abjad harus ada inisialnya misal seperti tadi yang aku ceritakan kalau "e" harus bilang "eeeayam" kalau "p" harus bilang "pohon".
Oke mungkin saat itu kalau ditanya bagaimana perasaanku menemukan solusi sesimpel itu. Rasanya seperti mendapat hadiah dari idola sendiri, mungkin aku tidak akan pernah berani memimpikan hadiah dari idola, tapi diberi dengan cuma-cuma. Mungkin aku tidak pandai mengungkapkanya dengan kata-kata,tapi perasaan itu campur aduk. Jujur aku bahagia sekali,senyumanku mungkin tidak akan pudar- pudar satu hari itu.
"Jangan merasa terbebani" itulah yang selalu aku yakinkan untuk diri ku sendiri,ingat! Anak ini masih panjang perjalannya. Apa yang kamu tanam maka itu yang kamu tuai untuk anak ini. Begitulah aku selalu menyemangati diriku sendiri setiap pertemuan kami.
Sekarang abjad "n" kata ku,dan dia menyambut dengan omelan-omelan kecil. "susah ditangkap otakku,aku selalu bilang ke otakku untuk mengingat semuanya,tapi besok lupa lagi kak omelnya" masih lanjut dengan omelannya,dan aku menjadi pendengar yang setia dan budiman saat itu. "ingat otak,ingat otak omelnya" sambil menoe-noel kepalanya.
Aku tarik nafas dan berlahan melepas kepenatan yang tiba-tiba timbul tanpa di undang,mungkin kami sama-sama frustasi saat itu. Sama-sama jengkel juga dengan triknya matahari. Jika suasana hati tidak mendukung,lalat lewat pun terasa kesal. Tapi aku memutar otak ku dengan cepat,tidak boleh terlarut dalam susasana yang agak mencekam. Harus mampu keluar dari zona ini pikirku. Ini adalah pertemuan kami yang ke akhir bulan,kami sudah melewati tiga minggu. Dan kemajuan Seina baru sedikit,masih mutar-mutar keliling-keliling begitu saja.
"Tidak apa-apa jawab ku" dan tidak lupa dengan seuntai senyuman manis kepadanya. Aku tidak lupa memberi saran setiap pertemuan kepadanya,tapi yang paling sering aku beri saran adalah "ulang lagi ya dirumah,kalau mau tidur buka lagi buku Seina. Walau tidak lengket di otak paling tidak di baca" kataku setiap pertemuan kami. Aku juga tidak lupa memberinya tugas di rumah,aku berpikir seperti pembimbing dan guru-guru lainnya. Kalau murid didikan itu harus diberi pekerjaan rumah biar belajar ulang.
Pikiran ku mengambang tidak karuan sama sekali. Tidak bisa juga diajak untuk berdamai pikiran ini,berulang kali aku menghela nafasku. Timbul pertanyaan-pertanyaan di otak kecil ku. Kenapa? Mengapa? Yah di umurku yang 26 tahun tidak punya pekerjaan tetap dan berakhir dengan seorang gadis kecil. Aku lulusan SE ,Aku sarjana. Kenapa menghadapi seorang anak kecil saja sulit rasanya,aku bertekat supaya gadis kecil bisa membaca,tapi kenapa ini sulit sekali. Begitulah keluh kesah ku pada waktu itu.
Aku mengambil buku bacaanku untuk membuang kegundahaan di kepala ku.
Tanpa aku sadari aku terhanyut dengan kata-kata ("kau tak akan pernah bisa mundur. Para pemenang tak pernah mundur,dan para pecundang tak pernah menang" tulisan TED TURNER). Bukan hanya hantaman biasa tapi juga serasa batu besar yang mungkin seukuran truk yang menghantam hati dan pikiranku. "oke kita jalani lagi seperti air mengalir dengan tenang" gumamku.
Abjad "n" masih menjadi problem aku dan Seina sampai akhir bulan. Pengucapan "n" adalah "en" aku terus menyuruh Seina mengulang-ngulang abjad yang satu itu. "en en en" katanya. Dan tanpa aba-aba lagi motor yang nyaring bunyinya melewati jalanan rumah,karna rumah orang tuaku dekat persimpangan jalan. Jadi kendaraan berlalu lalang,aku rifleks mengatakan ke Seina "suara motor" kataku. Dan dia diam,bingung melihat ke arahku, "ia suara motor,kenapa kak? Tanya Seina.
Aku dengan semangat menjelaskan ke Seina,kalau suara motor mirip dengan pengucapan "n" yaitu "en" kita bisa ucapkan bersama-sama bukan" kata ku dan aku mulai memperaktekkan gaya seseorang membawa motor dengan kedua tangan di stang. Dan aku mulai permainan ini lagi seperti sebelum-sebelunya. "enenenene" kataku meniru suara motor dan gaya membawa motor. Dan Seina juga mengikuti gaya ku dengan sukarela. "Bagaimana apakah sudah bisa mengingatnya" tanyaku. "Ya kak,kalau ada abjad "u" terbalik maka aku akan mengucapkan suara motor "enenene" kata Seina dengan senyum mengembang di pipi cabinya. Terlihat simpel bukan caranya,tapi butuh ketenangan dan kerelaan diri ini. Supaya apa yang kita harapkan akan berjalan seperti air mengalir dengan tenang tanpa hambatan.
Tidak terasa waktu pertemuan kami sudah hampir 2 bulan. Dan berbagai macam istilah permainan yang kami lakukan untuk abjad a-z. Supaya seina mengingatnya dan mematraikan di otak kecilnya.
Bukan hanya belajar,kami banyak bermain dan aku membacakan dongeng juga untuknya dan kami menggambar berbagai segala bentuk gambar yang kami mau. Aku benar-benar masuk kedunia Seina,bagaimana peran seorang gadis kecil. Kami banyak tawa dan bercanda,banyak mengeluh juga. Tidak apa-apa mengeluh asal jangan menyerah bukan kah kata-kata itu sudah umum,maka aku benar-benar memperaktekkannya di dunia nyataku. Jika saat itu aku menyerah mungkin aku tidak mengenal karakter Seorang Seina lebih dalam lagi.
Pertemuan minggu pertama kami,menuju ke tiga bulan pertemuan bimbingan. Seina sudah mulai mahir mengeja walau hanya pelan-pelan,lebih lama berfikir dari pada membaca. Aku selalu meyakinkan diriku sendiri dan ke diri Seina. Pasti bisa kataku padanya,jangan lupa dengan seuntai senyuman manis kuberikan kepadanya.
"sudah aku baca 10 baris dan udah ku ulang 5 kali malamnya kak,tapi bangun pagi aku lihat bukuku,sudah hilang lagi dari otakku" katanya. "aku tidak bisa" lanjutnya.
"kenapa tidak bisa? Seina yang pertama kali kakak kenal beda jauh sama Seina yang saat ini. Seina yang dulu mengingat abjad saja sering lupa,Seina yang sekarang ini udah mulai pintar mengeja,ya walaupun pelan-pelan. Bukankah itu suatu hal yang menakjubkan" terangku padanya.
Dia hanya terdiam dan termenung melihat buku-buku yang berserakan didepan kami,dan raut wajah yang cemberut.
"Seina mau tidak kakak kasi mantra yang membuat kita bahagia" lanjutku lagi.
Dia mendongakkan kepalanya dan melihat aku "boleh" jawabnya.
"Oke! coba setiap saat Seina merasa sedih seperti saat ini ucapkan berulangkali kata-kata ini" lanjutku
"Seina cantik,Seina pintar,Seina bisa"
"Mantra paling ampuh adalah mengucapkan kata-kata tadi harus berdiri,mengepal kedua tangan,menutup kedua mata,penuh dengan semangat dan dengan suara nyaring" kataku
"gimana kita coba?" tanya ku
Dan kami berdua berdiri memperaktekkan "Seina cantik,Seina pintar,Seina bisa" kami ulang-ulang sampai akhirnya kami tertawa lepas berdua dan merasa lelah karna terlalu lama berteriak,mudah bukan.
Pertemuan berikutnya Seina lebih awal datang dari hari pertemuan-pertemuan kami sebelumnya.
"sudah makan siang,sayur apa,banyak makan? Pertanyan-pertanyaan itu tidak pernah aku lupa menanyakan Seina setiap pertemuan kami. Karna keakraban akan timbul dari pertanyaan-pertanyaan bukan.
Tanpa perintahku saat itu Seina langsung menunjukkan buku membacanya.
"aku sudah pintar kak,10 baris aku sudah bisa,tidak terbata-bata lagi" katanya dengan senyum yang tidak pudar-pudar dari semenjak dia sampai.
"coba kakak dengar ya" lanjutnya
Seina mulai membaca dari baris ke 1 sampai baris ke 10. Tanpa aku perintah,dia menawarkan diri untuk membaca,tanpa aku paksa dia menyarankan diri sendiri untuk memulai dan tanpa kata-kata pembantu lagi. Luar biasa bukan, sungguh menabjubkan bukan walaupun hanya hal sekecil ini.
Aku sadar bahwa dorongan dan dukungan itu sangat penting. Dimana dunia dewasa ini hanya kesempurnaan yang dituntut,dan bahkan mengkritik orang lain itu bukan hal yang biasa lagi. Misalkan saat aku membimbing Seina kata-kata yang aku pakai ya itu "kamu malas,kamu bodoh,makanya belajar" sedangkan Dia sendiri sudah berusaha,namun keyakinannya di jatuhkan begitu saja,bukan kah itu akan merusak mental seorang anak kecil. Bukan hanya anak kecil kita yang sudah dewasa saja akan merasa kecil,tidak berguna jika kata-kata yang menyakitkan kita terima.
Aku selalu ingat kata-kata ini "anak kecil itu ibaratkan kertas putih,dimana kita sendiri orang dewasa yang akan mencoret-coret kertas itu. Apa hasil kertas itu maka itu lah hasil anak kecil itu".
Putri yulantika
Menarik
BalasHapusTerimakasih,semoga langganan membaca 😊
Hapus