KESEKIAN KALINYA

                     


 (Seperti air mengalir, akan terus mengalir. hingga sampai pada tujuannya) 

Setiap mahluk hidup pasti mengalami yang namanya proses hidup. Naik turunnya kehidupan sudah pasti,itu tidak akan bisa di hindari. Sudah pasti bagi setiap kita umatNya berbeda-beda jalan yang di tempuh. Bahkan ada yang terus berjuang,ada yang menyerah,ada yang pantang menyerah,berbagai macam ragam cara menyikapinya. 

Tapi dari segi apapun itu ingatlah bahwa Sang pencipta tidak akan pernah luput ambil andil dari setiap proses itu. Tergantung dari setiap mahkluk itu bagaimana cara meresponnya. Saran dari aku pribadi "Jangan Menyerah" ,apapun yang ditempuh,bagaimana pun kondisi dan keadaannya "Jangan Menyerah". 

Percayalah ada upah besar yang menanti di depan mu. Berat ia,sakit ia,frustasi ia,mencucurkan air mata ia,bingung ia,dan bahkan dada terasa begitu menyesakkan. Sehingga mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang,penyakit bermunculan satu persatu tanpa disadari. Tapi ingat apapun keadaannya "JANGAN MENYERAH" Jangan pernah lihat dari segi negatifnya,tapi lihatlah dari segi positifnya. 

Melawan diri sendiri,bergumul dengan diri sendiri,bertentangan dengan diri sendiri itulah tingkat pendewasaan yang membuat kita naik level. Sulit memang menyikapi keadaan yang bertentangan dengan rencana kita,tapi terkadang rencana kita bisa saja menjatuhkan kita kelobang paling dalam,dan bahkan bingung untuk keluarnya bagaimana. Itulah cara Tuhan, untuk menghardik karakter kedewasaan bagi setiap anak-anak yang dikasihinya. 

Sekitar jam 06:00 wib khusus daerah ibu kota Jakarta. Ransel dan koper barang bawaanku,menuju ke tanggerang. Dimana waktu itu aku harus menggunakan trasportasi KRL. 
Sebagian barang-barang yang aku miliki di tempat kakak saudaraku,dan aku harus mengambilnya. Karna aku harus balik ke Medan,pesawat yang sudah aku boking akan terbang jam 08:00 wib. Mungkin gambaran yang aku sampaikan akan kurang tepat,tetapi lebih kurangnya bagaimana suasana di kereta sungguh menyedihkan. Aku menggendong ranselku yang besar dan ditanganku satu koper yang aku deret. Waktu jam kerja sudah mulai,sehingga memenuhi gerbong kereta. 

Aku terhimpit di antara penumpang lainnya, barang-barang yg aku miliki membuat sedikit kualahan. Berdiri dari stasiun gondangdia sampai ke tanggerang dan sekali transit di tengah jalan aku lupa nama stasiunnya. Mungkin kaki ku mati rasa pada waktu itu karena terlalu lama berdiri. Kepadataan penumpang membuat penuh tempat duduk. Bukan hanya tempat duduk,tempat berdiri saja padat merayap. Setelah melewati perjalanan ke tanggerang, dan mengambil semua barang di tempat kakak saudara, aku lanjut ke bandara soekarno dan sampai di bandara aku salah gate (pintu). Dan sambil berlari-lari pindah gate lagi, keringat dan nafas sudah campur aduk. Pikiranku sangat kalut,dan bahkan sarapanpun lupa. 


Aku terlalu mengandalkan diriku sendiri pada saat itu dan terlalu berpikir keras. Karena perputaran hidup yang aku alami sungguh cepat pada waktu itu. Sungguh perasaan yang aku alami saat itu bener-benar kalut,dimana aku menerima panggilan dari Mamak. Mamak menyuruhku untuk balik ke Medan,karena kondisi Bapak kian makin menurun. Tidak ada pilihan lain selain balik ke Medan,meninggalkan mimpi-mimpi yang sudah aku rancang sendiri. Berulang kali aku meyakinkan diri sendiri "tidak apa-apa percayalah semua akan berlalu,dan semua akan indah pada waktunya". Begitulah caraku menghibur diri sendiri, setiap kali aku mengalami goncangan-goncangan hidup. 


Setelah sampai di pesawat aku duduk dikursiku persis disamping jendela,tanpa aba-aba air mataku keluar begitu saja. Aku sengaja tidak membuka masker mulutku,supaya tidak terlalu kelihatan kalau aku sedang menangis. Nafas ku berulang kali aku tarik dan hembuskan,supaya menenangkan jiwa yang sedang kalut,serabut. Sampai di bandara Kuala Namu (Medan) aku cari makanan,tanpa aku sadari sepertinya dari pagi perutku kosong. Beda sekali bukan waktu sudah dewasa dan waktu masih kecil. Kalau masih kecil lapar tinggal makan,sudah dewasa merasakan lapar saja tidak. 


Setelah selesai makan aku langsung cari bus ke binjai,dan sampai di binjai aku langsung ke rumah sakit,tempat Bapak di op name. Lebih kurang 1 minggu Tuhan masih kasih waktuku bersama Bapak. Aku dan Mamak meminta Dokter supaya memberi pengobatan yang terbaik kepada Bapak. Segala usaha sudah dilakukan,berdoa juga tidak lupa. Malam terakhir kami bersama Bapak, kami pindah rumah sakit ke Medan. Di ambulance menuju rumah sakit di Medan aku selalu pegang kaki Bapak,aku tidak lupa doa yang aku sampaikan ke Bapa yang di Sorga isinya "jika Bapak sembuh didunia ini maka angkat segala sakit penyakitnya,jika Bapak sembuh bersama Tuhan,maka kuatkan Aku,Mamak dan Keluarga yang ditinggalkan Bapak". Hanya itu saja doaku, dan hati ku tidak berhenti terus bernyanyi lagu "waktu Tuhan" aku pikir itu akan menenangkan pikiranku dan menambah sedikit tenagaku yang terkuras habis. 

Sungguh pikiranku kosong waktu itu,seperti mimpi di malam hari,serasa tidak nyata tapi nyata. Biar bagaimana pun kami sekeluarga dan aku khususnya,harus rela melepas Bapak ke sang pencipta. Karna kami yang tinggal akan melanjutkan kisah-kisah hidup lainnya. Selang 1 bulan kurang lebih,kami melewati masa berduka. Ada kabar dari adik mama dari Dobo tepatnya Maluku. Bahwa istrinya sedang di op name di Ambon (Maluku). Kami sharing siapa yang bisa berangkat ke sana. Untuk membantu bergantian berjaga,bersyukur biaya Tuhan sediakan kepada kami yang berangkat ke sana. Dan diambil keputusan bahwa Aku bersama bibi (kakak mamak aku) akan berangkat kesana. 


Jujur aku binggung waktu itu,kekuatan dan keteguhan hatiku. Itu semua datangnya dari mana? Posisi ku pengaguran tidak ada pekerjaan,satu pun tidak ada,penghasilan Rp. 1000 saja tidak ada masuk kedalam dompetku. Tujuan aku juga waktu itu ke Ibu kota Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kenapa dengan percayanya aku pergi saja,dan bahkan aku sendiri masih dalam keadaan duka. Aku baru kehilangan Bapak,cinta pertamaku. Pertanyaan-pertayaan muncul begitu saja setelah aku melewati semua kejadian itu.

Satu hal yang aku pegang mungkin karna aku memiliki prinsip hidup "mengalir seperti air" ya bagaimana pun keadaanya jalani saja seperti air,akan mengalir terus tanpa henti. Mungkin hidupku pun seperti itu adanya mengalir terus. Rencana aku dan bibiku,paling lama aku di Ambon 1 minggu saja. Dan aku akan balik ke Medan duluan,dan bibi akan tinggal belakangan. Tapi rencana kami sungguh beda dengan rencana sang pencipta. Kondisi Istri (tante) dari adik mama dan bibiku (paman) semakin menurun dan bibiku menahanku untuk tidak balik duluan. Tidak sampai seminggu lebih kami di Ambon,tante sudah kembali ke sang pencipta. 

Sungguh terpukul dan sungguh pikiran kalut dan serba salah. Bagaimana mungkin? tidak sampai 2 bulan, 2 keluarga sudah berpulang ke sang Maha Kuasa. Tapi kami sekeluarga khususnya dari keluarga mamak,tidak mau lama-lama terlarut dalam duka. Kami bangkit,kami berdoa,kami percaya bahwa Tuhan sedang mengerjakan rencanaNya dalam hidup kami sekeluarga. Kami membawa Jenazah tante ke Dobo dengan pesawat,dan acara berjalan dengan baik. Aku dan bibi ikut ke Dobo,tidak mungkin kami balik ke Medan. 


Meninggalkan keluarga paman yang masih kondisi duka. Setelah acara penguburan di Dobo,rencana kami 2 atau 3 hari setelahnya, kami akan balik ke Medan. Rencana tinggal rencana,Tuhan punya rencana tersendiri. Pengumuman dari pemerintah Provinsi Maluku bahwa semua bandara akan ditutup. Tidak akan ada aktifitas dan pengoprasian jadwal di bandara,dan waktu yang ditentukan belum tau kapan akan berjalan seperti biasa. Karena virus Covid 19 sedang merajalela di Indonesia. Aku dan bibi tidak mampu berkata-kata lagi,kami hanya pasrah dengan keadaan yang ada. Bagaimana mungkin ini terjadi pada kami? Bukankah tujuan kami ini baik? Mungkin pertanyan-pertanyaan beribu-ribu macam muncul di isi otak kami saat itu. Benar-benar nyata aku pribadi mengalami apa yang Tuhan perkatakan "rancangan manusia dan Tuhan itu bagaikan Bumi dan Langit" jauh banget. Tapi rancangaNya lah yang paling tepat,paling sempurna tidak ada melenceng kekanan maupun ke kiri. 


Mungkin setiap kejadian,setiap masalah, setiap apapun yang kita terima dan alami. Membuat kita down,membuat akal sehat kita tidak stabil dan bahkan membuat kita frustasi. Ingat jangan lupa untuk "bangkit lagi" tidak apa-apa jika mengeluh, frustasi,bersungut-sungut. Namanya kita manusia yang terbatas. Hanya Dia yang tak terbatas dan yang kekal. Tapi ingat bahwa setiap kejadian pasti ada maksud yang baik didalamnya. Aku pribadi juga,bukan hanya menangis, berteriak, mengeluh, down semua hal sudah aku rasakan dan hadapi. 

Tetapi semua terlewati, seperti air mengalir,mengalir terus hingga mencapi tujuannya."Jangan lupa tersenyum,jangan lupa bersyukur dan jangan lupa bahagia". Perkataan itu terus aku ucapkan dan aku materaikan ke hati dan pikiranku. Hanya aku pribadi yang bisa mengatasi bagaimana jalan pikiranku,begitu gumamku setiap saat. Tidak terasa kurang lebih 6 bulan kami di Dobo,kami menghabiskan waktu bersama adik-adikku anaknya paman dan jemaat gereja paman juga. Kami jadi akrab bersama semua jemaat gereja paman. Bulan 2 kami ke Dobo bulan 8 kami balik ke Medan. Setelah pemberitahuan pemerintah Prov.Maluku untuk kembalinya aktifitas bandara,dengan peraturan protokol kesehatan. Aku dan bibi akan siap-siap untuk kembali ke kampung halaman kami. 


Malam hari sebelum besoknya keberangkatan kami, ada kabar dari kampung bahwa adik mama yang no 6 terkena virus covid 19. Dan sudah di rumah sakit sedang menjalani pengobatan dari tim covid 19. Apa lagi ini ya Tuhan? Pertama kali muncul pertanyaan di hatiku,setelah menerima kabar dari kampung. Kembali lagi pikiranku campur aduk. Bagaimana gambaran suasana hatiku ntah lah aku tidak tau waktu itu. Besoknya kami berangkat ke Tual dari Tual ke Makasar dari makasar ke Jakarta,dari Jakarta ke Medan.


 Setelah berpamitan ke keluarga paman dan adik-adik semua,aku dan bibi siap meninggalkan Dobo dengan sejuta kenangan bersama keluarga paman. Keluarga paman sangat bersyukur dan terhibur atas kehadiran aku dan bibi disaat dalam keadaan duka. Sesampai di Medan,tepatnya di kampung halaman kami. Aku dan bibi karantina mandiri selama 2 minggu. Tanpa kami sadari ternyata masyarakat kampung halaman kami mengalami kegundahaan.


Karena bibi adik mama di vonis terjangkit virus covid 19. Dan untuk yang pertama kali masuk ke kampung kami virus ini,dan yang terkena adalah keluarga kami. Wajar jika masyarakat takut dan menghindari keluarga kami. Jujur waktu itu aku bingung juga dengan pendapat masyarakat setempat,tapi Tuhan mendinginkan pikiran dan hatiku. Yang paling membuat aku tambah bingung,tanaman hasil panen dari kebun warga kami tidak laku dijual keluar desa lainnya. Alasanya adalah karena di kampung kami ada covid 19. Waowww?! Kaget bukan? Sungguh mengkagetkan. 

Tapi ini lah yang namanya hidup,seperti air mengalir,semua akan berjalan apa adanya. Aku dan bibi selama karantina tidak lupa ibadah dan berpuasa. Dan aku masih ingat isi doaku "Tuhan aku percaya padamu,karna Tuhan tau kami sanggup,mampu dan kuat,untuk melewati ini semua. Sehingga Tuhan ijinkan ini semua ke aku dan keluargaku terjadi". Percayalah untuk sampai ke doa ini,air mata tidak dapat dihitung hehehe.. Bersyukur,bibi sembuh dan bisa pulang ke kampung halaman dengan baik. Aktifitas warga juga sudah kembali normal,masyarakat juga tidak takut lagi pada keluarga kami heheh.... Dan enam bulan kemudian tepatnya bulan 2. Suami (paman) bibiku (yang divonis covid 19) Kembali berpulang ke rumah sang pencipta. "KESEKIAN KALINYA" bukan. Wahhhh!!! Percayalah aku dan semua keluargaku mengalami guncangan yang hebat,tapi percayalah aku dan semua keluargaku harus mampu melewatinya,seperti air mengalir,akan mengalir terus.


Dari semua kejadian di atas,mungkin kalau dikumpulkan air mata aku sendiri,bisa kali ya jadi danau. Heheheh... Tapi itu tidak akan merubah keadaan,tidak akan mengembalikan keadaan juga. Tidak akan pernah ada lanjutan-lanjutan kisah hidup atau pengalaman-pengalaman yang memdewasakan diri sendiri. Ambil segi posifnya dan buang jauh-jauh segi negatifnya. Filter cara berpikir dan hati,ajak mereka kompromi untuk berdamai dengan keadaan. Belum selesai,kalau belum kembali ke sang pencipta,kisah-kisah hidup akan terus berjalan. Belum selesai juga "kesekian kalinya" masih menunggu didepan sana.

 Jangan menyerah dan pantang menyerah. Percayalah setelah mengalami kejadiaan-kejadiaan untuk "kesekian kalinya" tanpa ada jeda selama 2 tahun full. Tanpa aku sadari aku jadi pribadi yang lebih kuat,lebih bersyukur lagi. Dengan keadaan apapun yang terjadi aku lebih santai menyikapinya. Hebat bukan Bapa di Sorga menghardik anaknya,mendidik dengan caranya sendiri. Hikmat dan Kebijakan juga diajarkan dari pengalaman-pengalaman yang dilewati dan masih banyak lagi yang dapat dipelajari.


 Jadi jalani saja bagaimana pun keadaan kamu (yang baca tulisan ini) seperti air mengalir,biarkan mengalir dan nikmati momen-momen "kesekian kalinya" dengan bersyukur. Mau kah kamu (yang baca tulisan ini) diamana pun kamu berada,siapapun kamu,dan bagaimanapun keadaanmu. Bersedia menjadi teman atau sahabatku seperjuaangan "kesekian kalinya"? bersama aku. Kalau mau "Ayo bangkit!" dan Jangan Menyerah ya! Kita sama-sama berjuang, Percayalah semua akan "indah" jalani seperti "air mengalir" biarkan mengalir terus kehidupan ini 😊

Putri Yulantika

Komentar